Senin, 22 Desember 2014
fb tw rss

Legenda di Balik Pulau Jodoh

13 Januari 2013 08:21:27 WIB

Salah satu obyek wisata di Palembang ini tak hanya menyimpan kisah cinta nan tragis. Tapi, juga memiliki potensi ekonomi yang dahsyat.

Pulau Kemaro, Palembang, dengan pagodanya yang menjulang tinggi. (Istimewa)

Pulau Kemaro, Palembang, dengan pagodanya yang menjulang tinggi. (Istimewa)

“Tak lengkap bila ke Palembang tak mengunjungi Pulau Kemaro”. Kalimat itu dilontarkan Bebeng, warga Kebonjeruk, Jakarta, akhir Desember silam. Bersama tiga rekannya, mahasiswa Universitas Mercubuana itu rupanya memilih berlibur akhir tahun di Palembang. Dan, seperti dikatakannya, salah satu tempat yang dikunjungi di Kota Pempek ini adalah Pulau Kemaro. “Ongkosnya murah. Bersama tetangga kawan baru saya di Lemabang, kami patungan menyewa perahu. Setiap orang hanya keluar uang Rp 15 ribu sampai Rp 20 ribu,” kata Bebeng. “Satu perahu sewanya Rp 200 ribu,” tambahnya.

Tak sulit, memang, untuk menuju ke pulau itu. Kita hanya tinggal datang ke dermaga di depan Benteng Kuto Besak (BSK). Dari sana, dengan menumpang perahu, kita hanya memerlukan waktu sekitar 15 menit untuk tiba di pulau tersebut. Maklum, pulau yang terletak di tengah delta Sungai Musi itu jaraknya hanya sekitar lima kilometer di timur BSK.

Memiliki luas kurang lebih 24 hektar, pulau itu sebenarnya terbagi dua. Bagian timur merupakan perkampungan biasa, bagian baratnya merupakan kompleks kelenteng, yang menjadi daya tarik Pulau Kemaro.

Pulau Kemaro sendiri dalam bahasa Indonesia berarti Pulau Kemarau. Dinamakan demikian, karena pulau tersebut tak pernah digenangi air walaupun volume air di Sungai Musi sedang meningkat.

Di pulau ini, selain deretan pohon kelapa dan pepohonan lainnya yang rindang, yang membuat hawa di pulau itu terasa segar, ada pula sebuah kelenteng dengan pagodanya yang bertingkat sembilan. “Dari jauh, pagoda itu menjulang tinggi. Seperti pagoda-pagoda yang pernah saya lihat di Taiwan dan Jepang,” kata Bebeng, yang mengaku sudah mengunjungi seluruh negara Asean.

Di dalam kelenteng itu terdapat sebuah makam yang cukup unik: Sebuah makam seorang muslim dan dua makam lainnya. Makam muslim itu dipercayai masyarakat sebagai makam Siti Fatimah.

Bagaimana sebuah makam muslim bisa berada di lingkungan kelenteng? Inilah yang menjadi keunikan Pulau Kemarau sekaligus tanda akulturasi budaya yang terjadi di Palembang, sebagaimana terlihat pada kuliner dan bahasanya.

Adalah sebuah legenda yang bermula dari perkenalan antara seorang pangeran dari Tiongkok bernama Tan Bun An dengan putri raja Palembang, Siti Fatimah. Perkenalan itu rupanya berbuah cinta dan berakhir pada pernikahan. Selepas menikah, Tan Bun An berniat memboyong isterinya ke Tiongkok untuk diperkenalkan kepada keluarga besarnya sekaligus meminta restu dari mereka.

Singkat cerita, mereka pun tiba di Tiongkok. Orangtua Tan Bun An menyambut hangat kehadiran menantunya itu. Bahkan, ketika pasangan itu kembali ke Palembang, mereka dibekali sejumlah tong kayu yang sebagian merupakan hadiah Raja Tiongkok kepada Raja Palembang. Sebelum berangkat, ibu Tan Bun An mewanti-wanti agar hadiah yang mereka berikan itu tidak dibuka sebelum tiba di Palembang.

Setelah mengarungi lautan selama berhari-hari, sampailah armada perahu layar Tan Bun An di Sungai Musi. Merasa sudah tiba di daerah Palembang, saking senangnya, Tan Bun An minta diperlihatkan upeti yang akan dipersembahkannya kepada sang Raja Negeri Palembang. Ia berniat membukanya.

Namun, betapa kecewanya Tan Bun An ketika melihat isi tong-tong kayu tadi. Semuanya hanya berisi sayuran!  Malu karena hadiah yang akan diberikan mertuanya hanya berupa asinan, tanpa berfikir panjang lagi, ia membuang isi seluruh tong tadi ke Sungai Musi.

Namun, begitu isi tong kayu itu ditumpahkan ke sungai, tampaklah berbagai perhiasan emas dan permata tercurah ke dalam sungai. Rupanya, ibu Tan Bun An sengaja menutupi perhiasan itu dengan tumpukan sayuran seraya mewanti-wanti agar mereka tak membukanya di tengah jalan demi menghindari perhatian para perompak.

Malu dengan prasangka buruknya, Tan Bun An beserta isterinya dan seluruh awak armada perahunya menenggelamkan diri ke Sungai Musi. Dan bangkai kapal serta muatannya yang tenggelam itulah yang akhirnya menjadi onggokan tanah yang kini dikenal sebagai Pulau Kemaro.

Sebagaimana lazimnya sebuah legenda, banyak versi dari detail kisahnya. Ada yang menyebutkan, kepergian Tan Bun An dan Siti Fatimah itu berangkat ke Tiongkok sebelum mereka resmi menjadi pasangan suami isteri. Sehingga, karena belum sah sebagai suami isteri itulah, perjalanan mereka tak diberkahi. Dan terkena musibah justru di akhir perjalanan mereka, setelah tiba kembali di Sungai Musi.

Ada lagi versi tenggelamnya Tan Bun An dan Siti Fatimah. Mereka tenggelam bukan karena membenamkan diri. Melainkan demi mengambil kembali perhiasan yang kadung berhamburan ke dalam sungai. Karena Tan Bun An menyelam terlalu dalam, ia akhirnya malah tenggelam. Sementara, Siti Fatimah yang terdorong menolong suaminya tak ingat kekurangan dirinya: Ia tak bisa berenang. Sehingga, alih-alih bisa menolong suaminya, ia sendiri malah ikut tenggelam. Meskipun, berbeda dengan Tan Bun An, menurut versi ini, jenasahnya bisa ditemukan. Dan dimakamkan di Pulau Kemaro.

Besarnya cinta di antara pasangan itulah yang kemudian menjelma menjadi sebuah pohon langka yang ada di Pulau Kemaro. Sebuah pohon yang disebut “Pohon Cinta”, yang melambangkan cinta sejati antara dua manusia dari dua bangsa dan budaya berbeda: Siti Fatimah dari Negeri Palembang dan Tan Bun An dari Negeri Cina. Konon, jika pasangan muda-mudi yang sedang menjalin hubungan kasih mengukir nama mereka di pohon itu, maka cinta mereka akan berlanjut sampai ke pelaminan. Itulah sebabnya, pulau ini disebut juga “Pulau Jodoh”.

Sampai di mana kebenaran legenda itu, sampai kini belum ada informasi akurat yang bisa menjawabnya. Yang pasti, setiap perayaan Cap Go Meh (15 hari setelah Imlek) ribuan masyarakat Tionghoa – termasuk dari luar Palembang dan luar negeri seperti Malaysia, Singapura, Thailand, dan Cina — datang berkunjung ke Pulau Kemaro untuk melakukan sembahyang atau berziarah. “Kalau lagi Cap Go Meh, tempat ini seperti pasar, Pak,” kata Abdul Hamid, warga Kampung Kemaro Timur, perkampungan di sebelah komplek kelenteng. “Di antara deretan pohon-pohon ini pengelola kelenteng mendirikan kios-kios darurat, anaka macam barang dijual di sini. Pokoknya seperti pasar itulah,” tambah Abdul Hamid seraya menunjuk dereta pohon di pulau itu.

Jangan salah. Pasar dadakan omzetnya bisa mencapai milyaran dalam sehari. “Saya dan anak buah saya pernah dapat uang sampai Rp 400 juta dalam sehari,” kata Nia, mantan manajer pemasaran sebuah produsen rokok ternama. “Setiap kali Cap Go Meh, anak-anak selalu berebutan agar bisa ikut jualan di Pulau Kemaro. Ada kepercayaan, setiap barang yang dijual di sana pada hari itu harus dibeli pengunjung. Buat mereka, semakin banyak barang terjual, semakin banyak lagi komisi yang mereka dapat,” tandas Nia.

Selain pagoda yang tampak menjulang tinggi, di Pulau Kemaro juga terdapat sebuah pohon langka yang disebut “Pohon Cinta”. Konon, inilah lambang “cinta sejati” antara dua manusia dari dua bangsa dan budaya yang berbeda: Siti Fatimah dari Negeri Palembang dan Tan Bun An dari Negeri Tiongkok. Banyak orang percaya, jika pasangan muda-mudi yang sedang menjalin hubungan kasih mengukir nama mereka di pohon itu, maka cinta mereka akan berlanjut sampai ke pelaminan. Itulah sebabnya, Pulau Kemaro disebut juga “Pulau Jodoh”.

Tommy Cemat Herlambang dan Yusri Juliansyah

Incoming search terms:

  • h harnojoyo pulau kemaro

Belum Ada Respon untuk tulisan “Legenda di Balik Pulau Jodoh”

Tinggalkan Sebuah Komentar